Jumat, 19 Desember 2008
Apa Kata Mereka
Oleh : Budiarto Shambazy
16 September 2008
TAK sedikit pembaca bertanya apa yang terjadi pada “tahun politik” 2009? Sebagian bertanya karena ingin menghindari ngar-bingar Pemilu/Pilpres 2009 yang sami mawon dengan Pemilu 2004.
Mereka mendua: mengaku tak suka politik, tetapi diam-diam rajin menyimak berita politik. Sebagian lagi bertanya karena serius mau tahu masa depan bangsa yang sudah kelamaan susah.
Dilema demokrasi mengatakan sebagian hak pemilih dirampas beberapa detik setelah ia mencoblos. Tak ada istilah ralat karena mandat berlaku lima tahun.
Ada baiknya calon sadar kampanye bukan panggung untuk pidato self motivation ala Hermawan Kertajaya. Ia bukan lomba tarik suara, adu joget, atau obral sembako.
Rakyat sudah bosan melihat ulah Anda sejak tahun 2004. Dalam bahasa ABG, Anda “udah garing”.
Kalau mau dianggap prorakyat, sadarlah pemilu/pilpres tahun depan yang terberat dibandingkan sembilan sebelumnya (1955, 1972, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, dan 2004).
Mengapa? Sebab, pertama, bangsa ini sedang terpecah belah. Kedua, tekanan ekonomi yang dihadapi rakyat makin hari makin berat.
Beban Anda bertambah berat karena sebagian besar pemilih, termasuk first timers, menentukan pilihan 1-2 hari menjelang pencoblosan. Mereka ragu karena masa kampanye sembilan bulan tak ubahnya usia
kehamilan.
Tak lama setelah pemilu bulan April, ada kampanye putaran pertama pilpres (Juli 2009). Setelah rehat sebentar, ada kampanye putaran kedua pilpres (September 2009).
Orang Betawi bilang, “Nyoblos teruuus sampai bego…”. Orang Medan bilang, “Cam mana ini bah!” Orang Minang bilang, “Ondé mandé….”
Jadwal yang “diuber setan” ini mirip kompetisi di Eropa setahun sebelum Piala Dunia. Pemain berlaga 2-3 kali seminggu membela klub di liga, Liga Champions, dan penyisihan Piala Dunia.
Itu sebabnya David Beckham dibayar sekitar Rp 200 juta per minggu. Di sini Anda dibayar sembako, kaus, atau uang kontan Rp 100.000.
Itu sebabnya saya berani taruhan bahwa rakyat menyongsong Pemilu/Pilpres 2009 dengan setengah hati. Mungkin sama dengan anak-anak yang malas disuruh mengerjakan PR.
Mereka kurang peduli karena nyaris yang dikerjakan eksekutif, legislatif, dan yudikatif selama ini kurang bermanfaat langsung. Hal itu terbukti dari membengkaknya jumlah golput.
Golput biasanya direspons politisi dengan merancang program-program prorakyat. Di sini jumlah golput mencapai sekitar 40 persen alias 50 juta suara.
Suara yang diperebutkan sekitar 75 juta. Ini tak banyak kalau yang menjadi capres adalah Pak SBY, Pak JK, Mbak Mega, Pak Sultan, Pak Wiranto, Bang Yos, dan Pak Prabowo.
Jika ditambah nama-nama lain yang dispekulasikan, jumlah capres lebih dari tujuh orang. Persaingan pasti ekstra ketat dan kalau mau aman tiap calon wajib “menang mutlak” di putaran pertama.
Kalau itu tak terjadi, terjadilah apa yang dinamakan dengan statistical dead heat. Perbedaan suara tipis ibarat perjuangan hidup atau mati-ingat Pak Wiranto hampir menggugat kekalahannya di putaran
pertama Pilpres 2004?
Kedua, politicking akan mengganas. Sayang, praktiknya politik kotor sampai detik-detik terakhir, seperti intimidasi, politik uang, dan kecurangan.
Mengapa politik kotor mudah terjadi? Sebab, negeri ini terlalu besar untuk diawasi pada saat berlangsungnya aneka ragam aktivitas pemilihan yang berskala besar yang diselenggarakan secara bersamaan
sekaligus.
Tak usah jauh-jauhlah, kampung pekerja rumah tangga (PRT) saya di Serang baru dialiri aliran listrik. Aparat keamanan terbukti masih suka mengintimidasi warga desa di Pulau Jawa.
Ingat munculnya berderet persoalan yang dihadapi Komisi Pemilihan Umum (KPU) lima tahun silam? Misalnya, krisis kotak dan surat suara, keterlambatan transportasi, dan kelemahan perangkat lunak jaringan
komputer tabulasi suara.
Dalam kondisi biasa, itu tak mengganggu. Namun, kondisi sedang “tidak biasa” karena warga mudah naik darah dan mengamuk, seperti yang terjadi di Maluku Utara.
Alhasil, jangan bicara dulu soal peningkatan kualitas pemilu/pilpres. Mereka yang terpilih tahun depan ibaratnya ikan-ikan sepat yang kurang gizi, bukan ikan-ikan gurame goreng.
Setelah terpilih mereka butuh 100 hari untuk syukuran, penyesuaian, dan “perlobian”. Jika proses tahun politik selesai saat presiden dilantik akhir Oktober, mereka baru kerja Januari 2010.
Penyakit pemula rata-rata calon ialah gagal mengonversi popularitas menjadi solusi. Mereka gemar menggembar-gemborkan harapan atau perubahan dan itu tentu saja dibolehkan.
Namun, lebih penting mempunyai gagasan-gagasan konkret dan pragmatis yang menerjemahkan harapan serta perubahan menjadi program-program. Maaf, ini bukan keahlian pelawak, artis sinetron, bintang
film, pesohor, sisa-sisa Orde Baru, atau politisi busuk.
Ini keahlian yang didapat dari pengetahuan tentang sejarah kebangsaan, kondisi kekinian, dan solusi menghadapi tantangan. Sungguh banyak warga yang memiliki keahlian itu, tetapi mereka menghindari
politik.
Mereka mampu mengucapkan 10-20 kalimat yang sederhana yang dimengerti oleh petani, penganggur, pelajar, atau ibu rumah tangga. Mereka bukanlah capres, cawapres, atau calon anggota parlemen.
Mereka ada di antara kita semua. Dan, sesungguhnya kita masih haus, dahaga, terus menunggu apa gerangan kata mereka tentang masa depan bangsa dan negara Indonesia.
Sebuah Esai di Kompasiana.com
karena cinta, yang pahit berasa manis
karena cinta, tembaga menjadi emas
karena cinta, ampas menjadi anggur murni
karena cinta, penyakit menjadi penawar
karena cinta, yang mati menjadi hidup
karena cinta, sang raja menjadi hamba
-- R u m i --
Labels
- asli (10)


