renungan buah pikiran

Selasa, 11 November 2008

MEMETIK KUNCI SUKSES HM. JOS SOETOMO

GAYA bicaranya meledak-ledak. Sesekali diiringi tawa dan canda. Sangat terbuka kalau diajak ngobrol. Topiknya pun macam-macam. Mulai dari filsafat, kenegaraan hingga urusan perut. Itulah sekilas gambaran penampilan HM Jos Soetomo. Sang pengusaha papan atas itu, beberapa hari lalu bersedia menemui wartawan Tribun Kaltim di ruangan kerjanya, Bumi Senyiur --hotel bintang empat di Samarinda, Kalimantan Timur.

"Kita jadi konco ya... Mudah-mudahan pertemuan ini adalah hidayah," tuturnya.
Sebelumnya, Jos Soetomo mengaku ada pers asing yang telah mengirimkan surat permintaan untuk melakukan wawancara terhadap dirinya. "Saya kan mau diwawancarai bussines news. Dia mengirim surat melalui kedutaan besar Amerika. Lalu saya katakan, negara kami sedang diuji oleh Tuhan. Belum saatnya saya berbicara...," katanya.

Perjalanan hidup Jos teramat panjang dan penuh dengan makna. Berkat kegigihannya dalam menjalani kehidupan, berdirilah Hotel Bumi Senyiur di Samarinda dan Hotel Gran Senyiur di Balikpapan. Bahkan belum lama ini sang pemilik PT Sumber Mas Group kelahiran Desa Senyiur, Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara, melakukan ekspansi ke Jawa. Ia membangun Hotel Royal Senyiur, di kaki Gunung Welirang, Kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur.

PT Sumber Mas awalnya bergerak di bidang perkayuan. Kini ia menjadi induk dari lima perusahaan perkayuan, diantaranya PT Kayan River Industries Plywood (KRIP), PT Meranti Sakti Indah Plywood (MSIP), PT Meranti Sakti Indonesia (MSI), PT Dirga Rimba dan PT Estetika Rimba. Tak hanya itu saja. Lelaki itu lahir di Desa Senyiur, Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur. Selain terjun di dunia perhotel, Jos juga melirik bisnis perumahan di Samarinda dan Balikpapan. Nama perusahaannya PT Sendawar Indah Permai dan PT Karang Joang Estate di Balikpapan.

Apa resepnya sehingga ia mampu membangun gurita bisnis di wilayah Kaltim? Apa filosofi hidupnya? Semoga, dengan memetik makna dibalik keberhasil Jos Soetomo, pembaca bisa mendapatkan spirit baru untuk bangkit dari 'ketertiduran' dan mengikuti jejaknya menuju titik kesuksesan. Berikut penuturannya:

APA filosofi kehidupan saya, sehingga dikatakan berhasil seperti ini? Bismillah... Dengan bismillah... kita harus menyadari, semua itu (prestasi). Hakekatnya adalah talenta. Kita lihat jika kita mensyukuri talenta, kalau di Kristen kan diberi nama kesaksian. Sedangkan di Islam namanya syiar itibak. Syiar itibak itu, Yaa... Allah ya Tuhanku... tujuan kita semua kun. Kayak Tribun juga, tujuannya apa?

Hakekatnya kan kita ini mudah-mudahan menjadi kesaksian. Pemasaran inilah yang paling penting. Ada pemasaran agama, suku, dan pemasaran bagaimana kita lain syakartum laaziidannakum, wa lain kafartum inna 'adzaabii lasyadiid (Jika kamu bersyukur akan nikmat yang Aku berikan kepada-Mu, niscaya akan Aku tambah nikmat tersebut kepadamu, namun jika kamu kufur akan nikmat-Ku, ingatlah bahwa azab-Ku sangat pedih).

Kita hidup ini dari parit sampai ke danau. Danau nanti tahu bahwa ada sungai. Sungai nanti ada laut, ada samudera. Di situlah banyak orang. Dulu saya lebih senang.... Sekarang, meskipun begini (bergelimang harta) saya tidak senang. Kenapa? Dia tidak ngerti, dulu dia di parit. Parit itu kan bisa gampang loncat, sungai bisa lihat. Lautan tidak...

Saya sekarang ini kan syariatnya diberi Tuhan sebuah kekuatan memerdekakan keluarga. Keluarga ini kapan kamu merdekakan? Masyarakat adalah keluarga kita. Yang kita kerjakan kan ini... Kalau kalian ikhlas, jangan takut.. Tuhan dan alam akan mendengar... Tapi orang kadang tidak yakin.

Mudah-mudahan melalui koran Tribun Kaltim yang besar ini, saya berkorban bukan riak, tetapi bagiku meski satu ayat akan kuucapkan. Mulutmu adalah harimaumu. Kita sekarang seluruh komponen sadar enggak bahwa sekarang kita makan racun. Semuanya, termasuk saya sendiri dan mudah-mudahan ini hidayah. Dalam bathin saya, sama racun.
Karena ada racun di dalam tubuh kita, mudah-mudahan kita menanamkan kebaikan seperti spirtus, kejelekan kita meniru solar. Artinya apa? Kebaikan harus cepat, pikir, kerja dan sukses. Dalam kejelekan, solar itu agak lambat.

Saya ini berbicara sebagai Jos Soetomo. Jos Soetomo iqronya mata. Kita ini sangat menyesatkan, dikira lampu aladin. Sama juga dengan Tribun, suksesnya mungkin di kuping. Di zaman Belanda dulu kita dicacingin. Sekarang kita buta, kita rasakan. Ada ketidaktulusan -- banyak manusia berteori tapi tidak praktek. Tahu enggak kenapa? Karena mereka tidak sadar bahwa sekarang kita tidak punya lampu aladin. Ini celakanya bahwa manusia selalu mengagung-agungkan dirinya sendiri, saya hebat, saya sukses. Lampu aladinmu mana? Masih takut, susah lagi...

Tapi kalau kita tidak iqro... jiwa kita ini stroke. Kalau badan stroke kita tahu, tetapi kalau masyarakatnya distrokekan, kita tidak nyalahin. Bayi keluar... kan telanjang. Setelah keluar memakai pakaian. Nah sekarang kita apakah sudah berpakaian?

Kenapa saya bikin hotel? Doakanlah ya Allah.. semua orang selamat. Ini filsafatnya luar biasa. Siapa pun, karena dia yang memberikan saya rezeki, maka kebaikan itu harus kayak spirtus, kejelekan kita kayak solar. Cemburu kita juga begitu, harus kayak solar. Jangan spirtus.

Saya berbicara ini adalah bagian dari komitmen, atau bersumpah kepada karyawan saya. Setiap sembayang saya berdoa, "Tuhan tutupkan rahasiaku yang jelek. Antara Engkau dan aku yang tahu."

Apa yang mau dibangggakan hidup ini. Nah ini bulan Ramadhan, kita menyadari semua kesombongan dalam bulan ini insya Allah hilang. Kesombongan makan, dulu kita pilih suka makan ini itu... Coba sekarang belum jam 13.00, jam 15.00, jam 17.00. Coba... Di situlah kita menyadari, mudah-mudahan kita ini mati tidak sia-sia. Kalau hidup kan pasti, mati dululah... Ketika mati nanti saya pasti sia-sia, karena tidak ada dalam sejarah.

Kenapa banyak kalimat-kalimat filosofis yang keluar dari pikiran saya, ini terjadi karena bismillah... Mudah-mudahan... sebenarnya saya sebagai orang yang beragama tidak boleh ngomong. Tapi karena banyak mengalah, muka tampak kriminil, hati tidak kriminil. Itulah alam. Ia akan memberi bismillah. Itu namanya satu renungan. Kalau panas adalah AC, kalau dinginnya adalah istighfar.

Terus terang, kenapa morfin laku, kenapa arak laku, kenapa niteclub laku...? Saya merasa kasihan. Masing-masing ingin mencari lubang (saluran). Tempat saluran untuk membuang kotoran ada, tetapi saluran jiwa ini saya rasa tidak cukup. Makanya penting ini wal asri, penting kita punya warung kopi.

Mudah-mudahan Tribun sebagai jembatan, dan menjadi lem benang untuk menyelamatkan umat kita. Sehingga tujuan hakikinya koran ini buat masyarakat bisa menyadari bagaimana mencintai keluarga kita, mencintai agama kita, mencintai negara kita, mencintai lingkungan kita.
PENYAKIT hati --iri dengki, syirik, ketamakan, kesombongan dan lain sebagainya—harus dicampakan dari folder hati. Penyakit yang satu ini bisa membuat hati tak bercahaya. Ketika hati tak bercahaya, maka pikiran tak mampu menaklukan nafsu. Seperti apa yang dikatakan HM Jos Soetomo, pengusaha sukses asall Kalimantan Timur. “Kenapa harus membeci?” tanyanya. Berikut tips sukses agar selamat dari dunia dan akhirat dari Jos Soetomo.

BANGUNAN (bidang usaha) saya ini berapa ribu pilar. Kenapa saya harus potong, kenapa saya harus benci? Kalau pengertian ini masuk, maka kejelekan kita insya Allah akan hilang. Tetapi kalau kita tidak mengerti apalagi memahaminya, maka yang terjadi adalah kesombongan. Masing-masing manusia menampilkan egonya. Saya lebih hebat, saya lebih cantik dari kamu. Ya Allah jangan Engkau jadikan aku pintar, tapi aku tidak ngerti. Lebih baik aku bodoh tetapi aku mengerti. (Kalimat yang disampaikan Jos Soetomo ini terasa amat dalam. Konkritnya banyak manusia pandai atau memiliki kelebihan, tetapi ia mudah lalai atau bahkan sengaja melanggarnya)

Untuk itu bermohonlah kepada Allah, dan memintalah agar kita dijauhkan dari penyakit hati. Kita tidak boleh membenci. Justru kebersamaan harus ditingkatkan. Dan Indonesia masih ada harapan, saya punya Gajah Mada dan saya punya Majapahit, saya punya Sultan Sulaiman (Kalimantan Timur), NKRI dan sumpah pemuda. Semua spiritnya harus ditingkatkan.

Penjajahan zaman dahulu, kita benar-benar dijajah. Penjajahan era sekarang adalah kebersamaan. Hati-hati lho, sekarang penjajahan itu enak. Kalau mati itu tidak ada bengkak, tek... langsung mati. Kalau dulu, mati bisa bengkak.

Kehidupan kita sekarang ini sangat bahaya. Mentang-mentang punya kualitas, benci kuantitas. Enggak boleh.... Kita harus saling menyelamatkan. Lestarinya manusia-manusia berkualitas adalah kuantitas. Kuantitas selamatnya adalah kualitas. Kalau keduanya ketemu, alhamdulillah akan menjadi rachmat. Itu yang kita sebarkan.
Kenapa semua manusia ingin menjadi pengusaha? Ini terjadi karena ya itu... tak ada tempat pembuangan (kotoran). Manusia itu yang penting cukup, bukan kaya. Meski keluargamu kaya, tapi Karena kita takut hidup, maka lahirlah kecemburuan.

Anda sekarang susah, bagaimana anak tidak susah. Untuk itu sekolahkan. Pendidikan moral lebih penting, baru setelah itu sekolahkan. Jangan semua nadah. Kayak saya pedagang, apa kepintaran saya. Kalau perang? Pengkhianat.... Tapi saya punya niat bagaimana membantu dan mengatasi orang, lain. Kita tanamkan, atibodi untuk menyikapi kehidupan kita sekarang ini. Saya kira hal itu tidak sulit. Dulu di zaman Majapahit ada istilah, “Manggan ora manggan ngumpul, mikur nduwur mendhem jero (makan tidak makan kumpul, menyembunyikan kebaikan).

Karena itu saya selalu berdoa. “Gajah Mada jangan Engkau bunuh Tuhan... Dia boleh mati, tapi jiwanya tidak mati di alam kami. Bangsa Indonesia ini bukan badut. Anda tahu pahlawan di Manado, Wolter Mongonsidi. Ketika mau ditembak. Tidak usah ditutup, ini adalah dada saya...”
***
JOS Soetomo itu ada bagus ada baiknya. Jadi jangan kepala besar. Karena saya punya begini, saya merasa bisa berenang di kolam renang. Coba kalau di laut... ehmm.... Karena itu saya selalu berdoa, “Kecilkan aku ya Allah dan orang lihat aku besar.”
Apakah betul sebuah perusahaan itu berkembang dengan baik hanya dengan pendekatan management ansich? Dagang itu ndak sulit. Tapi menghadapi manusia itu yang sulit. Seni atau siasat? Kalau seni pakai siasat, maka celakalah. Tetapi kalau siasat pakai seni.. begini (Jos mengacungkan jempolnya). Sebenarnya kita ini siasat, tetapi tujuannya adalah seni.

Sekarang ini banyak manusia punya banyak uang tetapi tak punya pekerjaan. Mereka menunggu orang lain bangkrut atau jatuh. Mengapa? Karena tidak ada pekerjaan. Untuk itu kita harus punya pekerjaan. Uang tidak segala-galanya.Sebaliknya, uang kalau dipakai segala-segalanya. Uang kalau disimpan tidak segala-galanya. Tolong jangan mengibulin, supaya semangat tetap bangkit. Rakyat kalau bicara, mesti uang segala-galanya. Untuk apa tujuannya? Untuk kekhawatiran hidup melihat familinya susah.
Pakai filsafat kayak saya ini untuk nipu karyawan saya, paling afdol. Tapi Tuhan bilang, "Bukan... aku tidak balas.. tapi tunggu..." Kita pasti akan mati. Kalau hotel ini pondasinya enggak beres, bukan urus tamu, tetapi urus bocornya dan tidak ada orang yang mau masuk.”
KEMATIAN pasti akan datang. Jangan takut mati... Meski manusia bersembunyi dari maut, dia (kematian) akan tetap menghampiri. Sebaliknya, manusia harus rajin melakukan kontemplasi terhadap apa yang bakal terjadi terhadap dirinya paska kematian. Merindukan kematian adalah proses pembelajaran menuju alam keabadiaan. Lalu apa pendapat dan pikiran HM Jos Soetomo soal kematian? Berikut penuturannya.

APA resep kesuksesan manusia? Pertama, mendekatlah dan mendekatlah ke Tuhan. Kalau musim ‘hujan’, saya selalu pakai ‘pendingin’. Sebetulnya kalau bangsa Indonesia ini mau berlomba-lomba menuju kebaikan, Masya Allah.... Jangan sebaliknya, orang kerja dengan baik malah masuk penjara, dan yang tidak baik malah jaya. Astagafhirullah...
Pernahkah saya menuju ke wilayah titik kematian? Alhamdulillah... saya setiap detik pra mati. Mudah-mudahan jangan nyesel karena mati. Tuhan sayang sama saya. Pra mati itu apa? Ya ngomongnya seikhlas-ikhlasnya. Ngomong seikhlas-ikhlasnya ya tidak ikhlas. Semua omongan ada nilai strategignya, tapi kalau hidayah alhamdulillah. Ya Allah mudah-mudahan racun jadi obat.

Makanya, sebelum mati berbuat kebajikan. Kita beramal, sebenarnya takut (amalnya) bangkrut. Lalu apa yang saya jalankan? Saya sembayang, saya tahajud dan saya berusaha berbuat sesuatu. Sahid lakukan, kafir tidak...! Sekali lagi saya takut bangkrut... Apa yang saya bangun? Bangun masjid, perhatikan yatim piatu... Kalau saya bangkrut, sahid. Jangan bangkrut kafir.

Saudara wartawan saya kira juga ketakutan hidup. Mudah--mudahan karena hidup, bukan karena yang lain. Cuma, bungkus kita apa? Agama... Dan yang paling bisa meruntuhkan bangsa ini adalah mulut. Hanya ngomong... Karena itu lakukan action atau langkah-langkah konkrit.

Semua manusia pernah takut mati. Kenapa saya berbuat amal bikin sekolah? Ukiran saya dari air dan Allah akan mengembalikannya lagi ke tanah. Jangan sebaliknya, kembali ke beton. Hakikinya adalah kesana.

Dulu sekitar tahun 1966, saya kelaparan di Kilo 30. Saya dikasih makan... Waktu itu saya dengan orang Jepang, naik mau lihat kayu di Kilo 30 dan ketika itu belum ada jalan. Saya lalu kelaparan, kemudian ada yang mau mengasih makan. Jadi, kalau rakyat ini baik, tidak mungkin mendapatkan pemimpin yang jelek. Kalau pemimpinnya baik, alhamdulillah... Kalau anda yang tahu rasa, maka bangkitlah yang miskin-miskin. Tetapi kalau pemimpin stroke yang naik, kasihan... Rakyatnya akan gigit jari.
(Beberapa jam setelah wawancara, wartawan Tribun Kaltim diajak Jos Soetomo mengikuti acara buka bersama dengan karyawan Hotel Bumi Senyiur. Di tempat itu Jos usai menjalankan shalat maghrib, terlihat berbuka bersama. Malam harinya di tempat yang sama diadakan shalat tarawih bersama-sama dengan tamu hotel)
***
APA yang kami lakukan memberikan ruang shalat tarawih adalah bagian dari pemasaran. Supaya orang yang nginap di sini tidak sia-sia membuang uang. Orang kan semua bantu saya. Terpenting adalah ridha. Kalau dari seribu orang saja lalu, ada dua orang yang ridha ya... alhamdulillah. Jadi kalau semuanya begini, alhamdulillah...

Jangan melihat saya saat ini sukses. Apa yang sudah saya perbuat? Sukses karena banyak harta? Jangan takut tidak punya uang. Khawatir kalau punya uang, maka kamu tidak bisa memakainya. Jangan takut tidak punya pangkat, karena pangkat khawatir tidak ridha ikut kamu. Saya bisa seperti ini, karena Tuhan cukup memberikan saya darah. Karena itu saya bersyukur.

Orang sukses itu bukan orang yang punya hotel ini. Orang yang tinggal di gubuk itu adalah orang yang konsisten terhadap pekerjaannya, terhadap penderitaannya, dan terhadap kejujurannya. (Wajah Jos Soetomo terlihat sedih... Ia mengaku prihatin melihat nasib mereka). Tapi mereka memiliki kebersamaan. Coba lihat di masjid, juga ada kebersamaan. Anda lihat yang masjidnya tidak pakai tape recorder, tetapi suara Allahu Akbar... Allahu Akbar... Subhanallah... Karena itu saya selalu berdoa, “Tidak ada jalan ya Allah, orang lihat saya kasihan, orang lihat saya sayang. Amin.”
Lihat saja raja komputer dunia. Berapa miliar dia punya uang untuk bismillah... Anda lihat Tiger Woods, ratusan juta dolar AS yang dia korbankan untuk berbuat baik supaya bermanfaat buat manusia lain.

Apa hakikat kehidupan ini? Pandai-pandailah bersyukur. Mengapa? Karena saya lahir, lantaran aku yang minta. Beri aku kesempatan ya Allah... Okey saya beri kamu kesempatan. Kita turun kita lupa. Jadi sekarang maksimalkan semua potensi diri. (Jos terlihat merentangkan kedua tangannya). Tapi hati-hati, mulutmu adalah harimaumu. Kau kerjalah seolah-olah seumur hidup dan beramalah seolah-olah besok mati. Kayak begini (bergelimang harta), belum tawakal. Yang di bawah (kaum papa) itu lho yang tawakal.

Kesuksesan manusia tidak bisa dilihat dari hartanya. Lalu bagaimana cara menularkannya? Saya ini cukup. Lihat keluarga saya dulu kemana-mana nembak babi, jual babi. Kemana-mana famili minta. Itu terjadi sebelum masuk Islam.

Lalu saya berdoa.. “Yaa Allah berikan pekerjaan buat keluarga. Kita ini hanya cari cukup. Kalau cari cukup insya Allah sukses akan datang. Kalau cari kaya tidak mungkin... Tidak mungkin kita cari cara dengan lampu aladin. Kalau saya punya anak, lalu anak saya sukses bukan main saya senangnya. Berarti kecamba ini sudah berakar Tuhan. Dia pohon meranti, dia pohon apapun. Tapi innalillahi kalau dia kerja di nite club.

Mudah-mudahan malaikat kalau pukul Jos Soetomo begini saja.. "Kurang ajar Jos" (lelaki itu memukul pahanya dengan telapak tangan, sambil tertawa lebar-lebar). Jadi, manusia sukses adalah manusia yang bisa menebarkan ilmunya kepada manusia lain agar ilmu itu bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri, anggota keluarganya dan orang lain.

Selain itu, konkritnya jangan menjadi manusia pendendam. Ingat enggak ketika diplonco. Kamu diploncoin, setelah itu kamu dendam dan ke depan kamu akan lebih sadis lagi. Sekarang kayak kalian ini –anak-anak muda-- sudah berada di Sungai. Jangan pakai titik koma dong untuk menuju ke laut atau samudera.

Kadang manusia itu ketika melihat situasi tidak betul, maka mereka ikut gila. Melihat orang korupsi, semuanya ikut korupsi. Kalau itu sebagai jembatan silakan, tapi tunjukan perbuatan. Apapun Robin Hood, ada contoh kok. Jangan tak mau mencuri, tapi dimakan sendiri. Akibatnya orang-orang susah juga ikut. Salah...! Wah Pak Tomo gitu, saya ikut. Mestinya, wah Pak Tomo begitu, saya jangan ikut. Itu baru betul. (achmad subechi/bintoro/perdata ginting)

Sebuah catatan di Harian Tribun Kaltim
Tebarkan Cinta Kasih Pada Sesama
Fadriansyah
Lahir di Samarinda
Email : fadrians@yahoo.com
karena cinta, yang pahit berasa manis
karena cinta, tembaga menjadi emas
karena cinta, ampas menjadi anggur murni
karena cinta, penyakit menjadi penawar
karena cinta, yang mati menjadi hidup
karena cinta, sang raja menjadi hamba
-- R u m i --


Labels